Tuesday, April 20, 2010

Apakah Sukses Itu?

Sering dan banyak tertawa
Mendapatkan rasa hormat dari orang pandai
dan rasa kasih dari anak-anak;
Meraih penghargaan kritikus yang jujur
dan tabah menghadapi pengkhianatan teman palsu
Menghargai keindahan
Menemukan sifat dalam diri orang lain;
Membuat dunia lebih baik, entah dengan anak yang sehat,
sepetak kebun atau kondisi sosial yang lebih baik;
Mengetahui bahwa seseorang telah hidup
lebih mudah karena keberadaanmu;
Itulah arti sukses.

by: Ralph Waldo Emerson

Thursday, April 01, 2010

The Most Beautiful Flower

One afternoon...


That park bench was empty when I was sitting there. Under a long and lush old branch of a willow tree. So free from life illusion that causes the forehead wrinkles, because the world intends to impose me.


And if it was not enough 'to disrupt my days',
A girl who was wheezing approached me, she was really tired after playing.
She was standing right in front of me with her head looking down.
And she said something in zeal,


"Look at what I've found!"
There was a flower in her hand, but it was so tragic,
The flower crown was dull. Maybe it was caused by lack of rainwater or sunlight.
I showed a wry smile and turned away,
Because I wanted her and the dead flower to go away.

However, she just sat down beside me instead.
And brought the flower to her nose and she shoutes in a manner which I thought was excessive.


"Smells wonderful and beautiful too. That's why I picked it and it is for you!"


I saw a wild flower in front of me either dying or dead. There were no brilliant colors either orange, yellow, or red. But I knew that I had to take it or she wouldn't go.

Then I reached the flower and I answered,
"This is what I need."

Instead of put the flower in my hand, but she held it to the top. I didn't know what the aim was.
Then, I realized that she couldn't see anything. She was blind.


I heard my voice was trembling, tears drowned and reflected the sun.
Time to thanked her because she had chosen the best.

"You're welcome,"

She said with a smile, and she continued playing.
Without realizing the impact her actions on me.
I sat and pondered the way she saw a woman who mused wearily under old willow.
How did she know that I'm upset?

Perhaps in her heart, she was blessed a true sight.
Through a girl's blind eyes, finally I could see something.
The world was not problematic, but myself was.
And during that time I owned blind,
Now, I swear 'to enjoy my life', and appreciate every second that I have.

Then, I brought the flower to my nose. And the smell was wonderful fragrance of red rose.
I smiled when I saw the same girl with another wild flower to change the life of an old man who had been struggling despair.

Wednesday, March 03, 2010

Stupid Conversation

It's a very old story about a stupid conversation between Lydia (my cousin) and I. It happened in the middle of the night on January 1, 2009 in my room. When we were going to sleep, we talked anything about each of our school. I turned off the lamp and ready for sleep. And then, the stupid conversation began..

L for Lydia, N for Nita.

L = Nit, muka gua keliatan nggak?
N = Hah? Nggak orang gelap
L = Ah serius lo Nit!
N = Nggak. Muka gua keliatan nggak? (udah tau gelap masih nanya juga)
L = Muka lo juga ngga keliatan (dan bodohnya malah ditanggepin)

We just realized that we had talked about a stupid thing and then we laughed at each other.

Me with Lydia. Just take a look at us!



..................................................................................................................................................

By the way,

1. Today is my Mom's birthday. Happy birthday Mommy! Love you always :)
2. I'm doing a mid-term test this week. I am killed by the extreme essay exercises. And I'm having a final test in ILP on Friday. So, wish me luck!
3. Nothing. Just wait for the next post :p


YunitaWerdiningrum XOXO

Saturday, January 02, 2010

Bye 2009, Hi 2010!

With a new smile,
with a new spirit,
with a new life,
I wanna say:

"HAPPY NEW YEAR 2010" :D

Yeah, let's start it from a new beginning.

I celebrated new year with my neighborhoods at Dendy's house. There were so much firecrackers around us from many houses. It was a noisy midnight, crowded, but exciting.

I always make a wishlist every new year. But for this year, I think I will not make any wishlist. Because I think it doesn't work (sigh). Just like the lyrics of Que Sera Sera song, "The future's not ours to see". So, I don't need to know about my future. Cause I like something surprising. I will just do my best in every work. And still being perfectionist ;)

Once again, HAPPY NEW YEAR.

Love,



---> My new face in 2010. (Click on the picture to enlarge the photo)




Yunita

Sunday, October 11, 2009

Kaya dan Miskin

Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin.

Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin.

Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya.

"Bagaimana perjalanan kali ini?"

"Wah, sangat luar biasa Ayah"

"Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin" kata ayahnya.

"Oh iya" kata anaknya

"Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?" tanya ayahnya.

Kemudian si anak menjawab.

"Saya saksikan bahwa :

Kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat.

Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ketengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya.

Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari.

Kita memiliki patio sampai ke halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.

Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita.

Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya.

Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri.

Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi."

Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara.

Kemudian sang anak menambahkan "Terimakasih Ayah, telah menunjukkan kepada saya betapa miskinnya kita."


Sebenarnya...

Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain.

Semua ini berdasarkan kepada cara pandang seseorang. Membuat kita bertanya apakah yang akan terjadi jika kita semua bersyukur atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta lebih.

Source: http://www.michaelyamin.net

Thursday, September 24, 2009

Selamat Idul Fitri Loves!

I'm sorry I haven't posted anything lately. Lagi males posting nih habisnya bosen banget bangetan. Gue pengen banget ngubah template gue cuma ribet gitu deh jadinya males. Oh iya Selamat hari raya Idul Fitri ya minal aidin walfaidzin.

Gue kemaren sore baru aja sampe rumah habis mudik. Capek gilaaa pusing di mobil terus. Sekarang sih udah bebas.


Ok, gue bener-bener lagi males nih. Maybe someday I'll be back for you guys :D

See ya!

Friday, August 07, 2009

Mari Kita Teruskan by Enid Blyton

Ibu Susan sangat baik hati. Beliau selalu menolong orang lain yang memerlukan bantuannya. Itulah sebabnya beliau disayangi oleh semua orang. Tetapi, bila ada seseorang yang bertanya, "Apa yang bisa kulakukan untuk membalas budimu?". Maka, jawabnya selalu adalah, "Oh, jangan pikirkan hal itu. Teruskan saja kebaikan yang kau terima itu kepada orang lain!"

"Bu, apa sih maksud Ibu mengatakan supaya orang meneruskan kebaikan kepada orang lain?" tanya Susan pada suatu hari.
"Ibu tak menginginkan orang membayar budi baik Ibu, Susan. Ibu lebih senang kalau orang yang menerima kebaikan Ibu mau berbuat baik kepada orang yang lain. Itu artinya meneruskan kebaikan!"
"Oh, begitu," ucap Susan sambil tersenyum. "Alangkah manisnya! Kita berbuat baik kepada seseorang, lalu menyuruhnya melakukan kebaikan untuk orang yang lain, dan orang lain yang menerima kebaikan itu pun kemudian menyuruh orang lain lagi meneruskan kebaikan kepada orang yang lain lagi. Dengan begitu, kebaikan takkan berhenti. Ia akan diteruskan, diteruskan, dan diteruskan lagi."
"Benar," sahut Ibu. "Gagasan yang manis sekali, bukan? Kalau semua orang begitu, dunia ini tentu akan penuh dengan perbuatan baik."
"Ah, aku mau meniru Ibu," kata Susan. "Nah, Bu --- sekarang berbuatlah suatu kebaikan kepadaku, lalu katakanlah, 'Teruskan kebaikan ini kepada orang lain, Susan!' "
"Baiklah," ucap Ibu. "Akan Ibu jahitkan bonekamu yang sudah rusak hingga ia utuh kembali. Mana bonekanya?"

Susan memberikan bonekanya kepada Ibu, dan Ibu pun segera duduk menjahitnya. Pekerjaan itu tak mudah. Ibu perlu waktu cukup lama untuk memperbaikinya. Tetapi pekerjaan Ibu tak sia-sia. Ketika telah selesai diperbaiki, boneka Susan kembali cantik dan utuh seperti semula.

"Ini, Susan," kata Ibu seraya memberikan kembali boneka Susan.
"Terima kasih Bu,," Susan berkata.
"Jangan berterimakasih kepada Ibu, Nak. Teruskan saja kebaikan yang kau terima ini kepada orang lain," ucap Ibu segera. Maka, sepotong kebaikan pun memulai perjalanannya.

Susan melakukan kebaikan yang dianjurkan Ibunya. Ia bertemu dengan Nyonya Down yang sudah tua, sedang menenteng tas berat sambil berjalan. "Mari kubawakan tas itu, Nyonya Down!" kata Susan sambil mengambil alih tas berat dari tangan perempuan tua itu.

Susan membawakan tas itu sampai ke rumah Nyonya Down. Betapa pegal rasa lengannya. "Terima kasih," ujar Nyonya Down. "Kuberikan kau uang se-penny sebagai tanda terima kasihku atas kebaikan yang kau berikan."
"Terima kasih, Nyonya Down. Tapi, jangan berikan uang itu kepadaku," sahut Susan cepat. "Teruskanlah kebaikanku tadi kepada orang lain."
"Oh, alangkah manisnya," kata Nyonya Down. "Tentu Nak, akan kuteruskan kebaikan yang kuterima ini kepada orang lain!"

Nyonya Down pun menunggu-nunggu kesempatan untuk meneruskan kebaikan itu. Saat yang ditunggu-tunggu tibalah. Tuan Dick lewat di depan rumahnya. Ia berjalan terpincang-picang, karena kakinya sudah tak kuat lagi. Nyonya Down menyapanya. Ditanyakannya ke mana laki-laki tua itu hendak pergi.

"Rotiku tak datang tadi pagi," balas Tuan Dick. "Jadi aku terpaksa berjalan jauh pulang-pergi ke kota untuk mengambilnya. Padahal rematik kakiku sedang kambuh.
"Oh, jangan susah-susah ke kota," ucap Nyonya Down. "Aku berjanji hendak meneruskan suatu kebaikan pada hari ini. Jadi, akan kuberi kau roti yang kauperlukan. Aku masih punya persediaan di lemari makan." Tuan Dick sangat girang. "Jangan ucapkan terima kasih kepadaku," Nyonya Down berkata. "Teruskan saja kebaikan ini kepada orang lain."

Tuan Dick pulang. Ia segera masuk ke dalam rumahnya, dan memotong roti pemberian Nyonya Down serta mengolesinya dengan mentega. Betapa baiknya hati Nyonya Down, pikirnya. Kebaikan semacam itu membuat orang lain merasa senang dan diperhatikan. Bagaimana caranya meneruskan kebaikan itu?

Seorang gadis cilik datang ke rumah Tuan Dick. Wajahnya ketakutan. Gadis itu memang takut pada Tuan Dick, karena Tuan Dick sering marah.
"Maaf, bolaku masuk ke kebun Anda. Bolehkah aku mengambilnya?"
"Tentu, tentu!" ujar Tuan Dick. "Mari kubantu mancarinya. Dan ini, ambillah apel ini untukmu!"
"Oh, terima kasih," ucap si Gadis Cilik sambil tersenyum manis hingga Tuan Dick merasakan kehangatan dalam hatinya. "Anda baik hati sekali, Tuan Dick."
"Dengarkan dulu pesaku sebelum kau pergi, Nak," ujar Tuan Dick. "Kau harus meneruskan kebaikan ini kepada orang lain. Mengerti? Jangan lupa, ya. Kebaikan ini supaya berputar dan tidak berhenti sampai di sini saja."
"Baik, Tuan Dick. Akan kuteruskan," sahut si Gadis. Hatinya senang bisa ikut serta meneruskan kebaikan. Sambil membawa bola dan buah apelnya, ia berlari-lari pulang. Sesampai di rumah terdengar olehnya Ibu mengaggil.

"Katie! Ibu tahu kau ingin bermain. Tapi, Ibu perlu mentega untuk memasak. Mentega kita sudah habis. Maukah kau pergi ke toko membeli sekaleng?"

Katie ingat akan janjinya hendak meneruskan sebuah kebaikan, "Baik, Bu. Aku pergi sekarang," sahutny. Ibunya sangat senang. Beliau bangga akan sikap anak gadisnya.
"Itu namanya anak manis," ibu Katie berkata ketika Katie kembali.
"Bu, teruskan kebaikan ini kepada orang lain," ucap Katie. Lalu Katie menceritakan pengalamannya di rumah Tuan Dick. Ibunya tersenyum.
"Tentu, Katie. Ibu akan meneruskan kebaikanmu," ujar beliau sambil berpikir bagaimana caranya. "Ah, aku tahu sekarang!" pikir beliau. "Aku akan membawaka buku dan puding buat Jack Brown. Ikutlah dengan Ibu, Katie! Biar Jack merasa senang. Kasihan anak itu. Sudah miskin, sakit pula."

"Ini namanya baru kebaikan yang bukan sekedar kebaikan, ya kan, Bu?" ujar Katie, gembira. Katie dan ibunya berangkat, membawa puding dan beberapa buah buku cerita. Betapa girang hati Jack melihat kedatangan mereka. Pudingnya langsung dimakan ketika Katie dan ibunya masih di sana.

"Kalian sangat baik hati," ujar Jack. "Mudah-mudahan aku bisa membalas budi baik kalian kelak."
"Tak usah, Jack," kata Ibu Katie. "Teruskan kebaikan kami kepadamu ini kepada orang lain lagi. Yang kami lakukan ini pun begitu. Meneruskan kebaikan yang kami terima dari orang lain!"

Jack tak henti-hentinya berpikir bagaimana caranya. Tentu saja sulit memikirkanperbuatan baik apa yang bisa dilakukannya ketika ia sedang sakit dan berbaring di tenpat tidur.

Setelah sembuh dan bisa berjalan-jalan seperti biasanya, Jack mencri jalan untuk meneruskan kebaikan yang pernah diterimanya kepada orang lain. Untunglah ia segera menemukan caranya. Ia menemukan sebuah sarung tangan tergeletak di jalan. Rupanya terjatuh dari tangan pemiliknya, karena ia terburu-buru. Dipungutnya benda itu, dan di bagian dalam terbaca sebuah nama. "Oh, kebetulan aku tahu rumahnya!" pikir Jack. "Tapi letaknya jauh dari sini. Ah, demi untuk meneruskan kebaikan yang pernah kuterima, akan kuantarkan juga sarung tangan ini meskipun aku harus berjalan jauh. Sebaiknya aku berangkat sekarang juga. Pasti Nyonya yang memiliki sarung tangan bagus ini senang." Maka pergilah dia. Jack merasa agak lelah, sebab tubuhnya belum sehat benar. Tetapi ia tidak berhenti sebelum sampai ke tempat tujuannya.

"Benar, ini saring tanganku! Oh, betapa senangnya, sarung tangan yang kusayangi ini kembali ke tanganku," ucap si Nyonya. "Kau sangat baik hati, Nak. Apa yang bisa kulakukan untuk membalas jasamu?"
"Oh, tak perlu, Nyonya. Cukup bila Nyonya mau meneruskan kebaikan ini kepada orang lain," sahut Jack. "Hanya itu yang kuinginkan."
Bagaimana caranya, pikir si Nyonya, "Oh, aku tahu!" ujarnya tiba-tiba. "Akan kutulis sebuah cerita untuk anak-anak yang kukenal. Kalau mereka menganggapku baik mau bercerita kepada mereka, maka akan kukatakan kepada mereka, 'Coba teruskan kebaikan ini ---- kebaikan yang dimulai oleh Susan. Usahakan agar kebaikan semacam ini diteruskan dan diteruskan lagi hingga tak pernah berhenti!' "