DAY 1
Sudah lama banget berniat ingin mengunjungi Halmahera Barat, khususnya Jailolo, karena kakak kedua saya bekerja mengelola sebuah penginapan bernama Saloi Inn (ngiklan dikit ya), tentunya ingin bertemu sang kakak sekaligus ingin tau seperti apa sih Jailolo dan sekitarnya itu.
Sudah lama banget berniat ingin mengunjungi Halmahera Barat, khususnya Jailolo, karena kakak kedua saya bekerja mengelola sebuah penginapan bernama Saloi Inn (ngiklan dikit ya), tentunya ingin bertemu sang kakak sekaligus ingin tau seperti apa sih Jailolo dan sekitarnya itu.
Dari jauh hari sudah cari-cari tanggal yang pasti untuk bisa pergi. Lihat-lihat kalender ada tanggal merah di hari Jumat, 30 Maret 2018 kayaknya oke untuk long weekend! Langsunglah saya propose cuti dari 2 bulan sebelum pergi untuk tanggal 28 Maret - 2 April dengan kakak pertama saya.
Mba Dinni, kakak pertama saya mengajak dua orang teman, panggil saja Kak Rika dan Kak Eva. Kami menuju bandara tanggal 28 Maret di malam hari, karena dapat flight di tanggal 29 Maret pukul 2 pagi. Packing pun apa adanya dan sudah usaha semaksimal mungkin untuk bawa barang secukupnya.
Dari Jakarta, tanpa transit, kami langsung mendarat di Bandara Sultan Babullah Ternate. Perjalanan yang buat saya melelahkan. Selama 4 jam saya nggak bisa tidur dan sebelumnya pun belum tidur. Sampai di Ternate, tadaaaa kami dijemput kakak cowo saya Mas Candra, panggil saja Cancan. Sebelum ke Jailolo cari-cari sarapan dulu lah ya. Lontong sayur enak nih. Apalagi lontong sayur di Ternate pake ikan. Daging ikannya enak banget! Sumpah! Sayangnya saya lupa nama ikannya apa duh maaf banget waktu itu nggak nyatet. Walau nggak nyatet, tapi kalau harga mahhh inget! Satu porsi lontong sayur disana sekitar Rp 25.000 yang biasanya di Jakarta hanya 10.000 hahaha. Yaak biaya makan disana memang terkenal tinggi. Sebelum berangkat sudah dikasih tau duluan sih sama Mba Dinni jadi nggak terlalu kaget dengan harga makanannya yang cukup mahal.
Sehabis sarapan barulah kami lanjut ke tujuan utama, yaitu Jailolo. Ohya, Jailolo merupakan sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Halmahera Barat. Jadi kami harus menyebrang lagi dengan speedboat dari Pelabuhan Dufa-Dufa di Ternate selama kurang lebih 45 menit ke Pelabuhan Jailolo. Saking pada lelahnya kami semua ketiduran di kapal lho. Biasanya kan agak sulit ya tidur di kapal apalagi berasa naik enjot-enjotan karena melewati ombak besar, tapi yah namanya lelah.. jadi bisa tidur saja. Nah disini Mba Dinni mabok kapal nihh sampe udah mau muntah.. Untung sekali saya sehat hahaha.
Sampai juga di Pelabuhan Jailolo. Ternyata malam sebelumnya Jailolo habis diguyur hujan badai, sehingga lautnya pasang dan warna air yang seharusnya bening menjadi coklat seperti susu Milo. Kebetulan Mas Candra bersama temannya, Dhika, ada mobil dari Saloi yang menjemput kami. Jadi kemanapun kami pergi, bisa pakai mobil itu. Jujur sepanjang perjalanan menuju Saloi itu saya excited sekali karena sudah lama nggak merasakan suasana pedesaan seperti ini. Kanan-kiri hanya ada hutan, sapi dan anjing menyebrang jalan dengan bebas tidak bisa lagi dihitung jari.
Begitu sampai di tempat penginapan yang hits dan keceh itu (baca: Saloi Inn) dengan disambut minuman seger banget yang diberi nama Lemon Cui, karena capek banget, kami istirahat sebentar sambil beberes. Yang paling pe er adalah beres-beres makanan nih! Iya, mama saya bawain bekal buanyaakk banget terutama buat Mas Candra. Ada rendang, chicken nugget, risol, kebab, susu, energen, sambal botol, kaos-celana baru. Pokoknya beratnya ngalahin barang bawaan saya ataupun Mba Dinni deh. Huadehhh saking banyaknya saya sama Mba Dinni bawanya super duper gempor. Biasa lah anak laki kesayangan Mama yang susah untuk bisa makan daging di Jailolo. Harga chicken nugget dan saus pun disana mahal hahaha. Sampe-sampe, makanan-makanan langka bagi Jailolo (baca: nugget, kebab, risol) ini tidak boleh kami makan oleh Mas Cancan!
Setelah makan, beberes, dan istirahat sebentar, kami pergi ke tujuan pertama, yaitu Pantai Tuada. Dari awal sudah dikasih tahu oleh Mas Candra kalau hari itu nggak mungkin kita bisa snorkeling karena melihat situasi air laut yang sedang pasang. Yah mau bagaimana lagi dong yah.. biar bagaimanapun namanya juga alam, yang selalu berubah-ubah. Jadi kita pun tidak pernah protes dengan proses alam. Kalau mendengar omongan, air di Pantai Tuada itu biasanya bening sekali kalau airnya tidak pasang. Hft.. biarpun airnya sedang pasang, memang sudah kelihatan sih kalau pantai ini bagus airnya kalau nggak pasang. Ditambah banyak view pegunungan di sekeliling laut.
Di Pantai Tuada kami kumpul-kumpul di sebuah saung sambil lihat pemandangan laut, gunung, dan juga hutan mangrove, sambil menikmati Aer Guraka panas yang super nikmat. Aer Guraka adalah minuman khas orang Ternate, namun saya yakin pasti ini sudah jadi minuman kesukaan orang Maluku. Komposisinya ada Jahe, Kenari, Gula Aren, Kayu Manis, dan Daun Pandan. Saya sebetulnya lupa, tapi salah satu dari komposisi yang saya sebut tadi adalah yang bisa menghangatkan tubuh. Kebayang kan betapa nikmatnya minuman yang berisi campuran rempah hehehe. Sambil menikmati Aer Guraka yang super dueper bikin semua orang jatuh hati ini, kami sambil bercengkrama juga sharing cerita dan sejarah yang ada di Ternate, Halmahera Barat, dan sekitarnya. Seru deh pokoknya, tetutama ngomongin mahkota sang raja yang punya rambut yang tumbuh dan ada ritual pemotongan rambutnya juga. Haisss kok bisa ya ada rambut tumbuh di mahkota?
Sehabis sarapan barulah kami lanjut ke tujuan utama, yaitu Jailolo. Ohya, Jailolo merupakan sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Halmahera Barat. Jadi kami harus menyebrang lagi dengan speedboat dari Pelabuhan Dufa-Dufa di Ternate selama kurang lebih 45 menit ke Pelabuhan Jailolo. Saking pada lelahnya kami semua ketiduran di kapal lho. Biasanya kan agak sulit ya tidur di kapal apalagi berasa naik enjot-enjotan karena melewati ombak besar, tapi yah namanya lelah.. jadi bisa tidur saja. Nah disini Mba Dinni mabok kapal nihh sampe udah mau muntah.. Untung sekali saya sehat hahaha.
Sampai juga di Pelabuhan Jailolo. Ternyata malam sebelumnya Jailolo habis diguyur hujan badai, sehingga lautnya pasang dan warna air yang seharusnya bening menjadi coklat seperti susu Milo. Kebetulan Mas Candra bersama temannya, Dhika, ada mobil dari Saloi yang menjemput kami. Jadi kemanapun kami pergi, bisa pakai mobil itu. Jujur sepanjang perjalanan menuju Saloi itu saya excited sekali karena sudah lama nggak merasakan suasana pedesaan seperti ini. Kanan-kiri hanya ada hutan, sapi dan anjing menyebrang jalan dengan bebas tidak bisa lagi dihitung jari.
Begitu sampai di tempat penginapan yang hits dan keceh itu (baca: Saloi Inn) dengan disambut minuman seger banget yang diberi nama Lemon Cui, karena capek banget, kami istirahat sebentar sambil beberes. Yang paling pe er adalah beres-beres makanan nih! Iya, mama saya bawain bekal buanyaakk banget terutama buat Mas Candra. Ada rendang, chicken nugget, risol, kebab, susu, energen, sambal botol, kaos-celana baru. Pokoknya beratnya ngalahin barang bawaan saya ataupun Mba Dinni deh. Huadehhh saking banyaknya saya sama Mba Dinni bawanya super duper gempor. Biasa lah anak laki kesayangan Mama yang susah untuk bisa makan daging di Jailolo. Harga chicken nugget dan saus pun disana mahal hahaha. Sampe-sampe, makanan-makanan langka bagi Jailolo (baca: nugget, kebab, risol) ini tidak boleh kami makan oleh Mas Cancan!
Setelah makan, beberes, dan istirahat sebentar, kami pergi ke tujuan pertama, yaitu Pantai Tuada. Dari awal sudah dikasih tahu oleh Mas Candra kalau hari itu nggak mungkin kita bisa snorkeling karena melihat situasi air laut yang sedang pasang. Yah mau bagaimana lagi dong yah.. biar bagaimanapun namanya juga alam, yang selalu berubah-ubah. Jadi kita pun tidak pernah protes dengan proses alam. Kalau mendengar omongan, air di Pantai Tuada itu biasanya bening sekali kalau airnya tidak pasang. Hft.. biarpun airnya sedang pasang, memang sudah kelihatan sih kalau pantai ini bagus airnya kalau nggak pasang. Ditambah banyak view pegunungan di sekeliling laut.
Di Pantai Tuada kami kumpul-kumpul di sebuah saung sambil lihat pemandangan laut, gunung, dan juga hutan mangrove, sambil menikmati Aer Guraka panas yang super nikmat. Aer Guraka adalah minuman khas orang Ternate, namun saya yakin pasti ini sudah jadi minuman kesukaan orang Maluku. Komposisinya ada Jahe, Kenari, Gula Aren, Kayu Manis, dan Daun Pandan. Saya sebetulnya lupa, tapi salah satu dari komposisi yang saya sebut tadi adalah yang bisa menghangatkan tubuh. Kebayang kan betapa nikmatnya minuman yang berisi campuran rempah hehehe. Sambil menikmati Aer Guraka yang super dueper bikin semua orang jatuh hati ini, kami sambil bercengkrama juga sharing cerita dan sejarah yang ada di Ternate, Halmahera Barat, dan sekitarnya. Seru deh pokoknya, tetutama ngomongin mahkota sang raja yang punya rambut yang tumbuh dan ada ritual pemotongan rambutnya juga. Haisss kok bisa ya ada rambut tumbuh di mahkota?
Dari perbincangan kami di Pantai Tuada, ada lagi satu hal yang jadi pengetahuan baru buat saya. Maluku Utara merupakan provinsi yang memiliki tingkat kebahagiaan tertinggi di Indonesia. Mendengar cerita itu tidak membuat saya heran, wong disini semuanya serba ada. Mau makan tinggal petik atau mancing. Mau berenang tinggal nyebur saja ke laut. Kekayaan akan rempah-rempah sudah lebih dari cukup memberikan mereka kehidupan yang damai.
![]() |
| Saloi Sirimoi |
Okeh.. Aer Guraka habis kami teguk, lanjut main-main di sekitaran Pelabuhan Jailolo. dimana ada patung bernama Saloi Sirimoi. Jelas harus dikunjungi karena ini merupakan icon dari Jailolo. Air di tempat ini jelas tidak terkena pasang, jadi beniiiing sekali. Disana banyak anak kecil pada main, banyak keluarga yang pada berkumpul juga. Terus yang lucunya, banyak suara burung yang terdengar, tapi burungnya nggak ada hahah!
DAY 2
Karena kami semua buta dengan Jailolo (kecuali Mba Dinni yang sudah pernah kesana), jadi trip kami sudah di-arrange sama Mas Cancan. Di hari kedua, tujuan kami adalah ke Desa Gamtala, kemudian snorkeling di Pulau Pastofiri dan Pulau Babua. Pagi-pagi kami ke Gamtala dulu. Gamtala adalah hutan mangrove. Hmmm seru tuh! Belum katanya disana ada air hangat, jadi kami bisa berendam air hangat dulu. Pas sampai sana, banyak anak-anak perempuan yang lagi cuci baju di pinggir sungai. Sayang sih sebenarnya melihat sabunnya yang ke air. Sambil menunggu Mas Candra memanggil nelayan yang akan antarkan kami, kami nontonin aja anak-anak kecil itu yang seru banget nyuci sambil berenang-renang. Anak-anak itu cantik-cantik lho. Setelah saya perhatikan, anak-anak Maluku Utara itu memang cakep-cakep ya dengan kulit gelapnya 😊
Mas Candra kembali, tidak bersama nelayan, namun bersama kabar, bahwa nelayannya sedang merayakan paskah! Jebret! Yah, memang seperti itulah, meski nelayan sudah di-book dan sudah bikin janji, kalau memang saat itu dia sadar dia harus beribadah, dia akan beribadah tanpa mengingat bahwa sudah ada janji huahaha. Kami sih tidak mau menyulitkan diri untuk complain. Tanpa basa basi, kami langsung arrange rencana lain, yaitu ke Hutan Saboega. Dinamakan Saboega karena memang hutan tersebut penuh dengan rumput Saboega. Kata Mas Cancan sih di Hutan Saboega itu ada benteng. Hmm menarik. Untuk menuju kesana kami perlu ke Desa Akelamo terdahulu, barulah masuk ke hutan. Yah, trekking sedikit lah ya.
Di sepanjang perjalanan, kami banyak menemukan ular kecil yang sudah mati dan kepalanya sudah tidak ada. Menurut saya sih ini memang ulah manusia yang disengaja. Saya antara kasihan karena ular itu juga ingin hidup, namun saya cukup mengerti bahwa mereka dibunuh karena mereka dianggap hama. Selain ular-ular kecil, kami juga banyak menemukan pecahan piring keramik peninggalan portugis. Kalau orang sana melihat hal-hal seperti ini pasti biasa saja, padahal di balik itu pasti ada cerita sejarah yang tak terbayang nilainya pasti tinggi.
Karena saya jarang trekking dan kondisi fisik sering drop, kakak-kakak saya dengan senangnya meledek saya dengan bilang "Capek lu?". Hhh resek.. Treknya sih nggak susah, tapi tanahnya sempat bikin kaki bersama sendal saya terjebak masuk ke dalam tanah lembek dan susaaah saat mau mengangkat kaki saya lagi. Karena sedikit frustasi disitu, kemudian saya benar-benar harus memperhatikan jalan yang lebih aman untuk dilewati. Tidak terasa sudah agak lama berjalan, kami mulai bertanya-tanya mana nih bentengnya jangan-jangan tidak ada. Akhirnya setelah trekking kurang lebih 30 menit, kami menemukan Benteng Saboega yang kami cari! Salah satu penemuan yang buat kami terpukau.. bagaimana bisa ketika sedang di tengah hutan tiba-tiba menemukan benteng. Sayangnya benteng ini belum dirawat dan baru mau direncakan dibuka untuk umum, jadi masih penuh dengan tumbuhan. Kami ingin masuk saja takut di dalamnya ada hewan buas.
Sambil istirahat sebentar sambil foto-foto, kami kembali lagi, karena jam 2 siang kami mau snorkeling! Sebelum kembali ke Saloi, cari makan siang di Jailolo. Ketemu gado-gado yang enak bangetbanget! Setelah selesai makan dan kenyang, kami istirahat di Saloi, tidur siang, sambil siap-siap untuk tujuan selanjutnya, yaitu Pastofiri dan Babua. Mas Cancan bilang, "Kalau Pastofiri mah tenang aja, airnya udah pasti bening, nggak bakal kena pasang, tapi arusnya aja paling yang kenceng hahaha." Hffftt okeh.. Saya sudah makin penasaran dengan Pastofiri ini, tempat dimana Mas Cancan pernah bertemu dengan hiu dan ular laut saat free diving. Untuk menyebrang ke Pastofiri hanya sebentar, sekitar 20 - 30 menit. 45 menit itu sudah paling lama. Saya duduk di atas kapal dengan Kak Eva, sambil mendengarkan musik pakai speaker yang dibawa Kak Eva kemana-mana hahaha. Nikmatt banget duduk diatas sambil memandang laut dan gunung di sekeliling kami. Rasanya rileeeksss!
Ketika sampai di Pastofiri, kami semua langsung nyemplung. Sedangkan Dhika mancing sambil masang Cakalang Fufu (ikan Cakalang yang diasap) untuk makan siang kami (padahal udah makan siang). Salah satu keunikan Pulau Pastofiri adalah selain airnya yang super duper bening bikin mata seger, Pulau ini tidak memiliki pasir, namun lahannya dari kerang. Kalau coba zoom foto diatas, bisa kelihatan bahwa yang berwarna putih itu bukan pasir, tapi karang. Jadi kalau tidak pakai sandal memang agak sakit sedikit. Saat snorkeling disana kami tidak menemukan hiu memang, karena kalau mau ketemu hiu berenangnya harus lebih dalam lagi. Sedangnya kita semua lagi nggak pada berani berenang sampai dalam, karena cuaca lagi tidak terlalu cerah.
Setelah beres snorkeling, kami semua kumpul di tempat yang seperti pendopo, untuk minum kelapa sambil menunggu Cakalang Fufu siap santap! Minum air kelapanya itu lhoo seger banget. Sampai akhirnya Cakalang Fufu sudah jadi, semuanya ketagihan! Enak bangetttt nggak pake lebay! Ikannya besar, daging padat dan empuk banget. Rasanya sampai susah dideskripsikan. Yang paling kalap tentu saja Mba Dinni hahaha. Saat lagi enak-enaknya menyantap Cakalang Fufu, tiba-tiba hujan badai. Ini pertama kalinya saya merasakan hujan badai di tengah laut. Kebayang saat kami berada di Pulau kecil dan berteduh di pendopo yang tidak begitu besar pula, kemudian ada hujan badai. Ombak pun semakin besar. Saya sampai jongkok karena agak kedinginan terkena air hahaha, beda dengan Mba Dinni yang tetap cool menikmati Cakalang Fufu.
![]() |
| Kakak adik lagi akur |
Okeh.. kayaknya kita kesampaian untuk nikmatin sunset nih.. melihat cuaca yang kurang baik, awalnya kami pesimis bisa ke Pulau Babua, tapi ternyata sempat! Yeyyy! Pulau Babua juga tidak terlalu jauh dari Pastofiri. Hanya nyebrang 10 menit, sampailah kita. Kalau pulau ini masih ada pasirnya. Disinilah tempat dimana saya, Kak Eva, dan Kak Rika akhirnya bisa berenang di pantai dan ngambang bebas 😝 Maklum ya saya sudah lama nggak bertemu dengan air, jadi senanggg.
Karena saya cukup capek habis berenang dan snorkeling di Pastofiri (bisa capek juga), saya memilih untuk bersandar di batu besar yang ada di pantai. Disitulah dimana saya bisa memandang laut yang dikelilingi oleh gunung dan bukit yang cantik, kemudian saya coba untuk meram (baca: tidur) sambil menikmati suara ombak. Saya tiduran di tempat ini agak lama (sesungguhnya tidur bukan tiduran), kemudian ada yang teriakkin saya "Nit sini liat sunset!" Hap! saya melonjak bangun, karena di sisi belakang saya adalah sunset. Dadah spot tidur enak. Saya mau selingkuh dulu ke spot dimana saya bisa lihat sunset.
![]() |
| Dari sudut pandang tempat saya tidur 😝 |
Setelah memandang sunset sampai selesai, saya kagum karena ternyata tidak langsung gelap begitu saja dan masih terang. Matahari memang tenggelam, tapi bulan purnama langsung menampakkan diri, yang mana buat kami tidak selesai-selesai jatuh cinta dengan Jailolo.
Aaaaah terima kasih Pastofiri! Terima kasih Babua! Kalian penuh kejutan!














