Thursday, July 19, 2018

Di Balik Halmahera Barat (Part 2)

Pastinya hampir semua orang yang bepergian ke suatu tempat selalu riset dulu tentang tempat tersebut. Yah kami juga.. sebelum berangkat ke Ternate sudah banyak browsing tentang Halmahera Barat. Terlalu banyak tempat indah dan seru di Jailolo atau Halmahera Barat untuk dikunjungi dalam waktu singkat. Sejak hari pertama, kami sempat terpikirkan oleh Loloda, tapi tidak berencana untuk kesana, karena lokasinya yang cukup jauh dari Jailolo. Kalau kami kesana itu artinya sudah pasti harus nambah budget. Kebimbangan di malam hari akhirnya ditutup dengan keputusan nekad kami, yaitu mengunjungi Loloda di hari ketiga. Kenapa nekad, karena satupun dari kami belum ada yang pernah mengunjunginya, bahkan Mas Cancan sekalipun!

Setelah kami pulang dari Pulau Babua, malamnya kami mengundang Pak Sofyan ke Saloi, karena Mas Cancan dan Dhika bilang beliau adalah orang Loloda. Saat ngobrol, kami ditunjukkan video Loloda olehnya. Kami semua takjub lihat video itu, apalagi lihat langsung!

Dari hasil ngobrol kami di malam itu, kami sepakat harus berangkat dari Saloi pukul 5:30, karena kami harus ke Pelabuhan Ibu dulu dengan mobil sekitar 2 jam. Ini sihh bukan berita baik buat kami semua yang suka sekali bangun tidur siang, tapi demi Loloda ya dijabanin deh! Karena perjalanan ke Pelabuhan Ibu bisa sekitar 2 jam, jadi mikirnya bisa tidur di mobil aja. Tapi nyatanya nggak, karena selama di perjalanan ada aja alasan untuk nikmatin apa yang kita lewatin di sepanjang jalan. Sapi dimana-mana banyak sekali, babi hutan, tumbuhan-tumbuhan yang asing di mata kami, keadaan desa di perayaan paskah, dan juga pemandangan Gunung Ibu. Maklum ya, sehari-hari yang dilihat kemacetan di jalan terus, jadi sekalinya lihat desa yang damai ya begini, langsung jadi norak dan berandai-andai tinggal di tempat sesejuk dan sedamai ini.

Ternyata setelah 1 jam 45 menit di perjalanan, kami sampai di Pelabuhan Ibu. Dari Pelabuhan Ibu kami baru naik kapal lagi. Awalnya kami melewati sungai dulu. Hal yang paling nggak disangka adalah kami ternyata harus melewati perbatasan dimana air sungai dan air laut bertemu, jadi di titik tersebut adalah titik dimana air ombaknya sangat tidak santai akibat tabrakan air sungai dan air laut. Kebayang gak sih deg-degannya! Jujur jantung mau copot, tapi jujur pas disitu seru banget 😂 Selama kurang lebih 1 jam, mata kami dimanjakan dengan seluruh pemandangan di depan, belakang, kanan, dan kiri. Kebetulan arus lagi besar-besarnya (tapi itu yang bikin saya excited sih jujur). Angin juga kencang banget, saking kencangnya topi Mbak Dinni sampai kelempar ke laut tapi untungnya bisa diambil lagi. Yang paling untung lagi adalah nggak hujan sama sekali.

Perjalanan laut itu sekitar 1 jam, akhirnya kita sampai di Loloda, tepatnya di Mari Poroco, tempat dimana banyak pecahan tebing berkumpul. Sejujurnya saya sampai nggak bisa mau mendeskripsikannya gimana lagi karena saking indahnya tempat ini. Sayangnya karena arus lagi kencang, jadi kami tidak bisa turun dari kapal untuk naik ke tebingnya, walaupun Mbak Dinni dan Mas Candra tetap nekad nyebur meski hanya bisa sebentar.


Setelah Mari Poroco, kami lanjut ke Kahatola untuk melihat Air Terjun Teu-Teu. Selama disana, kami langsung sadar bahwa kami seberuntung itu bisa melihat langsung air terjun yang jatuh langsung ke laut. Mungkin awalnya berniat mau lihat aja kan ya, tapi karena kebandelan kami yang tidak tahan melihat tempat seindah ini, kami semua nyebur dari kapal dan berenang untuk duduk di bawah air terjun. Bahkan yang sebenarnya takut berenang di tempat dalam, tetap nekad. Iya, waktu itu kami tidak bawa life vest satupun. 😳

 

Air Terjun Teu-Teu sudah, kami penasaran dengan tempat lain. Disana banyak sekali goa, penasaran aja ingin tau experience-nya saat melewati goa tersebut. Tapi karena angin dan ombak lagi kencang, kapal kami tidak cukup untuk melewati goanya, akhirnya tidak jadi. *sedih*

Akhirnya kami ke titik terakhir, yaitu Sosota. Disini adalah spot snorkeling. Tanpa basa-basi semua langsung nyebur berenang kesana-kemari. Bawah lautnya kayak apa? Jangan ditanya! Terumbu karangnya cantik-cantik banget. Tapi kalau boleh jujur ya, memang sebagian terumbu karang disana sudah bleaching. Makanya orang asli Loloda masih agak cemas untuk mempromosikan tempat ini.

Yang jelas nyelam di Sosota ini paling menyenangkan buat saya. Dengan arus yang sejujurnya sedang agak kencang, kami tetap lanjut berenang 😂 Saya, Mba Dinni, Mas Candra, Kak Rika, Kak Eva (kecuali Dhika yang udah fix ogah nyebur) berenang agak ke tengah. Saat kami mencoba berenang untuk mendekat ke tepi ternyata susah saking kami nggak ada yang kuat berenang melawan arus. Alhasil solusinya adalah kami semua gelantungan di kapal untuk ditarik ke tempat yang lebih dekat ke tepian hahaha. Rasanya diseret kapal seperti apa? Jangan tanya! Pegelnya gak ilang 3 hari! 😂😂 Tapi terlepas dari itu, ini adalah salah satu pengalaman yang seru.


Kami tidak boleh pulang terlalu sore, karena kalau sudah sore, air di perbatasan sungai pasti sudah surut yang bisa bikin kapal kami tidak bisa menyebrang. Jadi kami pergi meninggalkan Loloda jam 2 siang (sedih banget karena masih belum puas). Saya, Kak Eva, dan Dhika memilih untuk duduk diatas kapal demi menikmati pemandangan di laut lebih jelas. Mungkin bagi beberapa orang ini seram, tapi kami suka melihat ombak di tengah laut, ditambah ombaknya yang lagi besar (orang-orang aneh).

Nah, waktu di perjalanan kembali ke Pelabuhan Ibu, di tengah-tengah tiba-tiba ada yang teriak "Liat ada lumba-lumba!", "Eh bukan deng itu Cakalang Fufu!", lalu pas saya lihat, iya memang benar banyak sekali ikan yang lagi lompat seperti lumba-lumba, tapi bukan lumba-lumba! Aseli itu ikan Cakalang, gak pake Fufu! Ingat kan cerita di postingan saya sebelumnya? Fufu itu artinya asap. Ikan Cakalang yang dibakar/diasap namanya jadi Cakalang Fufu. Mba Dinni (yang reflek bilang Cakalang Fufu) kemudian bilang, "Eh kok Cakalang Fufu sih? Cakalang aja kaleeee kenapa ada Fufu hahahaha". Kami berhenti dan perlahan-lahan mendekat sebentar ke arah ratusan ikan Cakalang Fufu itu. Pak Sofyan melempar jaring untuk kita pancing, tapi mereka lompatnya cepat banget, akhirnya kami menyerah. Bukan menyerah sih, tapi ngejar sebelum surut, karena benar waktu kami sampai lagi di Pelabuhan Ibu, airnya sudah mulai surut, jadi kami harus turun dari kapal dan kapal pun digeret oleh Pak Sofyan dan teamnya.

Mungkin jarang ya tau Loloda, dibanding orang lebih tau Raja Ampat. Tempat ini benar-benar seperti belum disentuh manusia sama sekali namun recommended sekali! Tapi lebih baik jangan sendiri ya kesininya, karena ini benar-benar jauh dan masih sulit dijangkau. Dan yang paling penting, please banget kalau kesini (dan ke laut di sebelah manapun), yang boleh diambil foto saja ya! Jangan senggol ataupun sentuh karang, apalagi buang sampah sembarangan :)