Tuesday, December 15, 2020

A Brief Story of A Year Full of Suprises

It was going to be a thrilling year. At least that's what they had thought. They are human. Us.

Some might have been on fire with ambitions and obsessions. Some were arranging their big plans.

All humans become equal all of a sudden. On second thought, it's apparently not like that. All humans have always been equal. We never noticed it, as we were blinded with the temporary glory we were proud of.

A year of mess, we all assume.

Flooded with great, great loss.

An arduous test for the body and mentality.

This whole year, with all its oddities, has turned to a wake-up call for humanity, to look deeper, to understand better, to feel simply, and to live genuinely.

Monday, December 09, 2019

Obscure

Wow. Oh wow. It's getting closer to the end of 2019 and I have not posted anything here. Anything.
I've been battling with my own inner soul too hard this year. I've always tried to write something on my head, but they ended up as drafts and I thought "No, it's better left untold. I just cannot share this so just let it be on my own".

I just cannot write as I want. I just cannot speak as I want. To anybody.
I know it's dangerous when you don't know who to trust anymore. But that is what I am facing and feeling at the moment.

Or maybe I had been fighting too far for those who were not worth fighting. Funny. Funny life.
Now I need to understand that I only have to trust God, family, and close friends.

Thursday, July 19, 2018

Di Balik Halmahera Barat (Part 2)

Pastinya hampir semua orang yang bepergian ke suatu tempat selalu riset dulu tentang tempat tersebut. Yah kami juga.. sebelum berangkat ke Ternate sudah banyak browsing tentang Halmahera Barat. Terlalu banyak tempat indah dan seru di Jailolo atau Halmahera Barat untuk dikunjungi dalam waktu singkat. Sejak hari pertama, kami sempat terpikirkan oleh Loloda, tapi tidak berencana untuk kesana, karena lokasinya yang cukup jauh dari Jailolo. Kalau kami kesana itu artinya sudah pasti harus nambah budget. Kebimbangan di malam hari akhirnya ditutup dengan keputusan nekad kami, yaitu mengunjungi Loloda di hari ketiga. Kenapa nekad, karena satupun dari kami belum ada yang pernah mengunjunginya, bahkan Mas Cancan sekalipun!

Setelah kami pulang dari Pulau Babua, malamnya kami mengundang Pak Sofyan ke Saloi, karena Mas Cancan dan Dhika bilang beliau adalah orang Loloda. Saat ngobrol, kami ditunjukkan video Loloda olehnya. Kami semua takjub lihat video itu, apalagi lihat langsung!

Dari hasil ngobrol kami di malam itu, kami sepakat harus berangkat dari Saloi pukul 5:30, karena kami harus ke Pelabuhan Ibu dulu dengan mobil sekitar 2 jam. Ini sihh bukan berita baik buat kami semua yang suka sekali bangun tidur siang, tapi demi Loloda ya dijabanin deh! Karena perjalanan ke Pelabuhan Ibu bisa sekitar 2 jam, jadi mikirnya bisa tidur di mobil aja. Tapi nyatanya nggak, karena selama di perjalanan ada aja alasan untuk nikmatin apa yang kita lewatin di sepanjang jalan. Sapi dimana-mana banyak sekali, babi hutan, tumbuhan-tumbuhan yang asing di mata kami, keadaan desa di perayaan paskah, dan juga pemandangan Gunung Ibu. Maklum ya, sehari-hari yang dilihat kemacetan di jalan terus, jadi sekalinya lihat desa yang damai ya begini, langsung jadi norak dan berandai-andai tinggal di tempat sesejuk dan sedamai ini.

Ternyata setelah 1 jam 45 menit di perjalanan, kami sampai di Pelabuhan Ibu. Dari Pelabuhan Ibu kami baru naik kapal lagi. Awalnya kami melewati sungai dulu. Hal yang paling nggak disangka adalah kami ternyata harus melewati perbatasan dimana air sungai dan air laut bertemu, jadi di titik tersebut adalah titik dimana air ombaknya sangat tidak santai akibat tabrakan air sungai dan air laut. Kebayang gak sih deg-degannya! Jujur jantung mau copot, tapi jujur pas disitu seru banget 😂 Selama kurang lebih 1 jam, mata kami dimanjakan dengan seluruh pemandangan di depan, belakang, kanan, dan kiri. Kebetulan arus lagi besar-besarnya (tapi itu yang bikin saya excited sih jujur). Angin juga kencang banget, saking kencangnya topi Mbak Dinni sampai kelempar ke laut tapi untungnya bisa diambil lagi. Yang paling untung lagi adalah nggak hujan sama sekali.

Perjalanan laut itu sekitar 1 jam, akhirnya kita sampai di Loloda, tepatnya di Mari Poroco, tempat dimana banyak pecahan tebing berkumpul. Sejujurnya saya sampai nggak bisa mau mendeskripsikannya gimana lagi karena saking indahnya tempat ini. Sayangnya karena arus lagi kencang, jadi kami tidak bisa turun dari kapal untuk naik ke tebingnya, walaupun Mbak Dinni dan Mas Candra tetap nekad nyebur meski hanya bisa sebentar.


Setelah Mari Poroco, kami lanjut ke Kahatola untuk melihat Air Terjun Teu-Teu. Selama disana, kami langsung sadar bahwa kami seberuntung itu bisa melihat langsung air terjun yang jatuh langsung ke laut. Mungkin awalnya berniat mau lihat aja kan ya, tapi karena kebandelan kami yang tidak tahan melihat tempat seindah ini, kami semua nyebur dari kapal dan berenang untuk duduk di bawah air terjun. Bahkan yang sebenarnya takut berenang di tempat dalam, tetap nekad. Iya, waktu itu kami tidak bawa life vest satupun. 😳

 

Air Terjun Teu-Teu sudah, kami penasaran dengan tempat lain. Disana banyak sekali goa, penasaran aja ingin tau experience-nya saat melewati goa tersebut. Tapi karena angin dan ombak lagi kencang, kapal kami tidak cukup untuk melewati goanya, akhirnya tidak jadi. *sedih*

Akhirnya kami ke titik terakhir, yaitu Sosota. Disini adalah spot snorkeling. Tanpa basa-basi semua langsung nyebur berenang kesana-kemari. Bawah lautnya kayak apa? Jangan ditanya! Terumbu karangnya cantik-cantik banget. Tapi kalau boleh jujur ya, memang sebagian terumbu karang disana sudah bleaching. Makanya orang asli Loloda masih agak cemas untuk mempromosikan tempat ini.

Yang jelas nyelam di Sosota ini paling menyenangkan buat saya. Dengan arus yang sejujurnya sedang agak kencang, kami tetap lanjut berenang 😂 Saya, Mba Dinni, Mas Candra, Kak Rika, Kak Eva (kecuali Dhika yang udah fix ogah nyebur) berenang agak ke tengah. Saat kami mencoba berenang untuk mendekat ke tepi ternyata susah saking kami nggak ada yang kuat berenang melawan arus. Alhasil solusinya adalah kami semua gelantungan di kapal untuk ditarik ke tempat yang lebih dekat ke tepian hahaha. Rasanya diseret kapal seperti apa? Jangan tanya! Pegelnya gak ilang 3 hari! 😂😂 Tapi terlepas dari itu, ini adalah salah satu pengalaman yang seru.


Kami tidak boleh pulang terlalu sore, karena kalau sudah sore, air di perbatasan sungai pasti sudah surut yang bisa bikin kapal kami tidak bisa menyebrang. Jadi kami pergi meninggalkan Loloda jam 2 siang (sedih banget karena masih belum puas). Saya, Kak Eva, dan Dhika memilih untuk duduk diatas kapal demi menikmati pemandangan di laut lebih jelas. Mungkin bagi beberapa orang ini seram, tapi kami suka melihat ombak di tengah laut, ditambah ombaknya yang lagi besar (orang-orang aneh).

Nah, waktu di perjalanan kembali ke Pelabuhan Ibu, di tengah-tengah tiba-tiba ada yang teriak "Liat ada lumba-lumba!", "Eh bukan deng itu Cakalang Fufu!", lalu pas saya lihat, iya memang benar banyak sekali ikan yang lagi lompat seperti lumba-lumba, tapi bukan lumba-lumba! Aseli itu ikan Cakalang, gak pake Fufu! Ingat kan cerita di postingan saya sebelumnya? Fufu itu artinya asap. Ikan Cakalang yang dibakar/diasap namanya jadi Cakalang Fufu. Mba Dinni (yang reflek bilang Cakalang Fufu) kemudian bilang, "Eh kok Cakalang Fufu sih? Cakalang aja kaleeee kenapa ada Fufu hahahaha". Kami berhenti dan perlahan-lahan mendekat sebentar ke arah ratusan ikan Cakalang Fufu itu. Pak Sofyan melempar jaring untuk kita pancing, tapi mereka lompatnya cepat banget, akhirnya kami menyerah. Bukan menyerah sih, tapi ngejar sebelum surut, karena benar waktu kami sampai lagi di Pelabuhan Ibu, airnya sudah mulai surut, jadi kami harus turun dari kapal dan kapal pun digeret oleh Pak Sofyan dan teamnya.

Mungkin jarang ya tau Loloda, dibanding orang lebih tau Raja Ampat. Tempat ini benar-benar seperti belum disentuh manusia sama sekali namun recommended sekali! Tapi lebih baik jangan sendiri ya kesininya, karena ini benar-benar jauh dan masih sulit dijangkau. Dan yang paling penting, please banget kalau kesini (dan ke laut di sebelah manapun), yang boleh diambil foto saja ya! Jangan senggol ataupun sentuh karang, apalagi buang sampah sembarangan :)

Tuesday, May 01, 2018

Di Balik Halmahera Barat (Part 1)

DAY 1

Sudah lama banget berniat ingin mengunjungi Halmahera Barat, khususnya Jailolo, karena kakak kedua saya bekerja mengelola sebuah penginapan bernama Saloi Inn (ngiklan dikit ya), tentunya ingin bertemu sang kakak sekaligus ingin tau seperti apa sih Jailolo dan sekitarnya itu.

Dari jauh hari sudah cari-cari tanggal yang pasti untuk bisa pergi. Lihat-lihat kalender ada tanggal merah di hari Jumat, 30 Maret 2018 kayaknya oke  untuk long weekend! Langsunglah saya propose cuti dari 2 bulan sebelum pergi untuk tanggal 28 Maret - 2 April dengan kakak pertama saya.

Mba Dinni, kakak pertama saya mengajak dua orang teman, panggil saja Kak Rika dan Kak Eva. Kami menuju bandara tanggal 28 Maret di malam hari, karena dapat flight di tanggal 29 Maret pukul 2 pagi. Packing pun apa adanya dan sudah usaha semaksimal mungkin untuk bawa barang secukupnya.

Dari Jakarta, tanpa transit, kami langsung mendarat di Bandara Sultan Babullah Ternate. Perjalanan yang buat saya melelahkan. Selama 4 jam saya nggak bisa tidur dan sebelumnya pun belum tidur. Sampai di Ternate, tadaaaa kami dijemput kakak cowo saya Mas Candra, panggil saja Cancan. Sebelum ke Jailolo cari-cari sarapan dulu lah ya. Lontong sayur enak nih. Apalagi lontong sayur di Ternate pake ikan. Daging ikannya enak banget! Sumpah! Sayangnya saya lupa nama ikannya apa duh maaf banget waktu itu nggak nyatet. Walau nggak nyatet, tapi kalau harga mahhh inget! Satu porsi lontong sayur disana sekitar Rp 25.000 yang biasanya di Jakarta hanya 10.000 hahaha. Yaak biaya makan disana memang terkenal tinggi. Sebelum berangkat sudah dikasih tau duluan sih sama Mba Dinni jadi nggak terlalu kaget dengan harga makanannya yang cukup mahal.

Sehabis sarapan barulah kami lanjut ke tujuan utama, yaitu Jailolo. Ohya, Jailolo merupakan sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Halmahera Barat. Jadi kami harus menyebrang lagi dengan speedboat dari Pelabuhan Dufa-Dufa di Ternate selama kurang lebih 45 menit ke Pelabuhan Jailolo. Saking pada lelahnya kami semua ketiduran di kapal lho. Biasanya kan agak sulit ya tidur di kapal apalagi berasa naik enjot-enjotan karena melewati ombak besar, tapi yah namanya lelah.. jadi bisa tidur saja. Nah disini Mba Dinni mabok kapal nihh sampe udah mau muntah.. Untung sekali saya sehat hahaha.

Sampai juga di Pelabuhan Jailolo. Ternyata malam sebelumnya Jailolo habis diguyur hujan badai, sehingga lautnya pasang dan warna air yang seharusnya bening menjadi coklat seperti susu Milo. Kebetulan Mas Candra bersama temannya, Dhika, ada mobil dari Saloi yang menjemput kami. Jadi kemanapun kami pergi, bisa pakai mobil itu. Jujur sepanjang perjalanan menuju Saloi itu saya excited sekali karena sudah lama nggak merasakan suasana pedesaan seperti ini. Kanan-kiri hanya ada hutan, sapi dan anjing menyebrang jalan dengan bebas tidak bisa lagi dihitung jari.

Begitu sampai di tempat penginapan yang hits dan keceh itu (baca: Saloi Inn) dengan disambut minuman seger banget yang diberi nama Lemon Cui, karena capek banget, kami istirahat sebentar sambil beberes. Yang paling pe er adalah beres-beres makanan nih! Iya, mama saya bawain bekal buanyaakk banget terutama buat Mas Candra. Ada rendang, chicken nugget, risol, kebab, susu, energen, sambal botol, kaos-celana baru. Pokoknya beratnya ngalahin barang bawaan saya ataupun Mba Dinni deh. Huadehhh saking banyaknya saya sama Mba Dinni bawanya super duper gempor. Biasa lah anak laki kesayangan Mama yang susah untuk bisa makan daging di Jailolo. Harga chicken nugget dan saus pun disana mahal hahaha. Sampe-sampe, makanan-makanan langka bagi Jailolo (baca: nugget, kebab, risol) ini tidak boleh kami makan oleh Mas Cancan!

Setelah makan, beberes, dan istirahat sebentar, kami pergi ke tujuan pertama, yaitu Pantai Tuada. Dari awal sudah dikasih tahu oleh Mas Candra kalau hari itu nggak mungkin kita bisa snorkeling karena melihat situasi air laut yang sedang pasang. Yah mau bagaimana lagi dong yah.. biar bagaimanapun namanya juga alam, yang selalu berubah-ubah. Jadi kita pun tidak pernah protes dengan proses alam. Kalau mendengar omongan, air di Pantai Tuada itu biasanya bening sekali kalau airnya tidak pasang. Hft.. biarpun airnya sedang pasang, memang sudah kelihatan sih kalau pantai ini bagus airnya kalau nggak pasang. Ditambah banyak view pegunungan di sekeliling laut.

Di Pantai Tuada kami kumpul-kumpul di sebuah saung sambil lihat pemandangan laut, gunung, dan juga hutan mangrove, sambil menikmati Aer Guraka panas yang super nikmat. Aer Guraka adalah minuman khas orang Ternate, namun saya yakin pasti ini sudah jadi minuman kesukaan orang Maluku. Komposisinya ada Jahe, Kenari, Gula Aren, Kayu Manis, dan Daun Pandan. Saya sebetulnya lupa, tapi salah satu dari komposisi yang saya sebut tadi adalah yang bisa menghangatkan tubuh. Kebayang kan betapa nikmatnya minuman yang berisi campuran rempah hehehe. Sambil menikmati Aer Guraka yang super dueper bikin semua orang jatuh hati ini, kami sambil bercengkrama juga sharing cerita dan sejarah yang ada di Ternate, Halmahera Barat, dan sekitarnya. Seru deh pokoknya, tetutama ngomongin mahkota sang raja yang punya rambut yang tumbuh dan ada ritual pemotongan rambutnya juga. Haisss kok bisa ya ada rambut tumbuh di mahkota?

Dari perbincangan kami di Pantai Tuada, ada lagi satu hal yang jadi pengetahuan baru buat saya. Maluku Utara merupakan provinsi yang memiliki tingkat kebahagiaan tertinggi di Indonesia. Mendengar cerita itu tidak membuat saya heran, wong disini semuanya serba ada. Mau makan tinggal petik atau mancing. Mau berenang tinggal nyebur saja ke laut. Kekayaan akan rempah-rempah sudah lebih dari cukup memberikan mereka kehidupan yang damai.

Saloi Sirimoi

Okeh.. Aer Guraka habis kami teguk, lanjut main-main di sekitaran Pelabuhan Jailolo. dimana ada patung bernama Saloi Sirimoi. Jelas harus dikunjungi karena ini merupakan icon dari Jailolo. Air di tempat ini jelas tidak terkena pasang, jadi beniiiing sekali. Disana banyak anak kecil pada main, banyak keluarga yang pada berkumpul juga. Terus yang lucunya, banyak suara burung yang terdengar, tapi burungnya nggak ada hahah!

DAY 2

Karena kami semua buta dengan Jailolo (kecuali Mba Dinni yang sudah pernah kesana), jadi trip kami sudah di-arrange sama Mas Cancan. Di hari kedua, tujuan kami adalah ke Desa Gamtala, kemudian snorkeling di Pulau Pastofiri dan Pulau Babua.  Pagi-pagi kami ke Gamtala dulu. Gamtala adalah hutan mangrove. Hmmm seru tuh! Belum katanya disana ada air hangat, jadi kami bisa berendam air hangat dulu. Pas sampai sana, banyak anak-anak perempuan yang lagi cuci baju di pinggir sungai. Sayang sih sebenarnya melihat sabunnya yang ke air. Sambil menunggu Mas Candra memanggil nelayan yang akan antarkan kami, kami nontonin aja anak-anak kecil itu yang seru banget nyuci sambil berenang-renang. Anak-anak itu cantik-cantik lho. Setelah saya perhatikan, anak-anak Maluku Utara itu memang cakep-cakep ya dengan kulit gelapnya 😊

Mas Candra kembali, tidak bersama nelayan, namun bersama kabar, bahwa nelayannya sedang merayakan paskah! Jebret! Yah, memang seperti itulah, meski nelayan sudah di-book dan sudah bikin janji, kalau memang saat itu dia sadar dia harus beribadah, dia akan beribadah tanpa mengingat bahwa sudah ada janji huahaha. Kami sih tidak mau menyulitkan diri untuk complain. Tanpa basa basi, kami langsung arrange rencana lain, yaitu ke Hutan Saboega. Dinamakan Saboega karena memang hutan tersebut penuh dengan rumput Saboega. Kata Mas Cancan sih di Hutan Saboega itu ada benteng. Hmm menarik. Untuk menuju kesana kami perlu ke Desa Akelamo terdahulu, barulah masuk ke hutan. Yah, trekking sedikit lah ya.

Di sepanjang perjalanan, kami banyak menemukan ular kecil yang sudah mati dan kepalanya sudah tidak ada. Menurut saya sih ini memang ulah manusia yang disengaja. Saya antara kasihan karena ular itu juga ingin hidup, namun saya cukup mengerti bahwa mereka dibunuh karena mereka dianggap hama. Selain ular-ular kecil, kami juga banyak menemukan pecahan piring keramik peninggalan portugis. Kalau orang sana melihat hal-hal seperti ini pasti biasa saja, padahal di balik itu pasti ada cerita sejarah yang tak terbayang nilainya pasti tinggi.

Karena saya jarang trekking dan kondisi fisik sering drop, kakak-kakak saya dengan senangnya meledek saya dengan bilang "Capek lu?". Hhh resek.. Treknya sih nggak susah, tapi tanahnya sempat bikin kaki bersama sendal saya terjebak masuk ke dalam tanah lembek dan susaaah saat mau mengangkat kaki saya lagi. Karena sedikit frustasi disitu, kemudian saya benar-benar harus memperhatikan jalan yang lebih aman untuk dilewati. Tidak terasa sudah agak lama berjalan, kami mulai bertanya-tanya mana nih bentengnya jangan-jangan tidak ada. Akhirnya setelah trekking kurang lebih 30 menit, kami menemukan Benteng Saboega yang kami cari! Salah satu penemuan yang buat kami terpukau.. bagaimana bisa ketika sedang di tengah hutan tiba-tiba menemukan benteng. Sayangnya benteng ini belum dirawat dan baru mau direncakan dibuka untuk umum, jadi masih penuh dengan tumbuhan. Kami ingin masuk saja takut di dalamnya ada hewan buas.



Sambil istirahat sebentar sambil foto-foto, kami kembali lagi, karena jam 2 siang kami mau snorkeling! Sebelum kembali ke Saloi, cari makan siang di Jailolo. Ketemu gado-gado yang enak bangetbanget! Setelah selesai makan dan kenyang, kami istirahat di Saloi, tidur siang, sambil siap-siap untuk tujuan selanjutnya, yaitu Pastofiri dan Babua. Mas Cancan bilang, "Kalau Pastofiri mah tenang aja, airnya udah pasti bening, nggak bakal kena pasang, tapi arusnya aja paling yang kenceng hahaha." Hffftt okeh.. Saya sudah makin penasaran dengan Pastofiri ini, tempat dimana Mas Cancan pernah bertemu dengan hiu dan ular laut saat free diving. Untuk menyebrang ke Pastofiri hanya sebentar, sekitar 20 - 30 menit. 45 menit itu sudah paling lama. Saya duduk di atas kapal dengan Kak Eva, sambil mendengarkan musik pakai speaker yang dibawa Kak Eva kemana-mana hahaha. Nikmatt banget duduk diatas sambil memandang laut dan gunung di sekeliling kami. Rasanya rileeeksss!


Ketika sampai di Pastofiri, kami semua langsung nyemplung. Sedangkan Dhika mancing sambil masang Cakalang Fufu (ikan Cakalang yang diasap) untuk makan siang kami (padahal udah makan siang). Salah satu keunikan Pulau Pastofiri adalah selain airnya yang super duper bening bikin mata seger, Pulau ini tidak memiliki pasir, namun lahannya dari kerang. Kalau coba zoom foto diatas, bisa kelihatan bahwa yang berwarna putih itu bukan pasir, tapi karang. Jadi kalau tidak pakai sandal memang agak sakit sedikit. Saat snorkeling disana kami tidak menemukan hiu memang, karena kalau mau ketemu hiu berenangnya harus lebih dalam lagi. Sedangnya kita semua lagi nggak pada berani berenang sampai dalam, karena cuaca lagi tidak terlalu cerah.


Setelah beres snorkeling, kami semua kumpul di tempat yang seperti pendopo, untuk minum kelapa sambil menunggu Cakalang Fufu siap santap! Minum air kelapanya itu lhoo seger banget. Sampai akhirnya Cakalang Fufu sudah jadi, semuanya ketagihan! Enak bangetttt nggak pake lebay! Ikannya besar, daging padat dan empuk banget. Rasanya sampai susah dideskripsikan. Yang paling kalap tentu saja Mba Dinni hahaha. Saat lagi enak-enaknya menyantap Cakalang Fufu, tiba-tiba hujan badai. Ini pertama kalinya saya merasakan hujan badai di tengah laut. Kebayang saat kami berada di Pulau kecil dan berteduh di pendopo yang tidak begitu besar pula, kemudian ada hujan badai. Ombak pun semakin besar. Saya sampai jongkok karena agak kedinginan terkena air hahaha, beda dengan Mba Dinni yang tetap cool menikmati Cakalang Fufu.



Kakak adik lagi akur
Alhamdulillah hujan badainya tidak lama, setelah itu langsung cerah lagi. Saya sih seperti biasa ingin foto-foto keindahan pulaunya. Tapi karena kesal banyak sampah yang mengganggu, jadi kami kumpulkan dulu sampah-sampah botol plastiknya. Sebelum berangkat kami memang sudah prepare membawa trash bag. Namun jujur kami tidak sanggup menampung semua sampah, karena trash bag kami terbatas. Dengan rasa sedih, masih banyak sisa sampah dari orang-orang sebelum kami yang tidak kami angkut. Edukasi mengenai pentingnya mengurangi penggunaan pastik menurut saya perlu lebih banyak lagi. Masalah ini lebih dari sekadar merusak pemandangan, tapi membayakan lingkungan baik darat maupun laut. Plastik-plastik yang terbuang di laut itu akan dimakan oleh hewan-hewan yang ada disana. Miris. 😔

Okeh.. kayaknya kita kesampaian untuk nikmatin sunset nih.. melihat cuaca yang kurang baik, awalnya kami pesimis bisa ke Pulau Babua, tapi ternyata sempat! Yeyyy! Pulau Babua juga tidak terlalu jauh dari Pastofiri. Hanya nyebrang 10 menit, sampailah kita. Kalau pulau ini masih ada pasirnya. Disinilah tempat dimana saya, Kak Eva, dan Kak Rika akhirnya bisa berenang di pantai dan ngambang bebas 😝 Maklum ya saya sudah lama nggak bertemu dengan air, jadi senanggg.

Karena saya cukup capek habis berenang dan snorkeling di Pastofiri (bisa capek juga), saya memilih untuk bersandar di batu besar yang ada di pantai. Disitulah dimana saya bisa memandang laut yang dikelilingi oleh gunung dan bukit yang cantik, kemudian saya coba untuk meram (baca: tidur) sambil menikmati suara ombak. Saya tiduran di tempat ini agak lama (sesungguhnya tidur bukan tiduran), kemudian ada yang teriakkin saya "Nit sini liat sunset!" Hap! saya melonjak bangun, karena di sisi belakang saya adalah sunset. Dadah spot tidur enak. Saya mau selingkuh dulu ke spot dimana saya bisa lihat sunset.



Dari sudut pandang tempat saya tidur 😝




Setelah memandang sunset sampai selesai, saya kagum karena ternyata tidak langsung gelap begitu saja dan masih terang. Matahari memang tenggelam, tapi bulan purnama langsung menampakkan diri, yang mana buat kami tidak selesai-selesai jatuh cinta dengan Jailolo.

Aaaaah terima kasih Pastofiri! Terima kasih Babua! Kalian penuh kejutan!

Sunday, March 25, 2018

Tiga Tahun ke Belakang

"Better late than never" kalo kata orang-orang hahahaha..

Ini memang agak telat tapi saya mau cerita sedikit dan seingatnya aja tentang perjalanan saya ke beberapa tempat-tempat (beberapa terpencil) yang baru saya kunjungi selama tiga tahun terakhir.

Dieng Plateau 2017

Tahun lalu saya sempat ke Dieng saat libur lebaran sama sepupu saya. Lagaknya semangat banget mau naik Gunung Sikunir. Karena kami mau mengejar sunrise, malam sebelumnya kami sebisa mungkin istirahat lebih awal walaupun sebenarnya kami malah main keluar dulu ke Candi haha! Kami bangun sekitar jam 4 pagi dan langsung mandi (Mandi di jam segini tuh hell banget sih dinginnya tapi saya gakbisa gak mandi >.<). Setelah mandi saya pakai alis dan liptint ala kadarnya saja sambil merem-melek ngantuk-ngantuk lalu ambil tas yang sudah saya siapkan dari malam.

Begitulah, kelihatannya semangat sekali ya, padahal waktu naik, baru sekitar 1 KM aja ngos-ngosannya udah sampe mau mati hahahaha! Tapi it was worth it banget kok. Demi liat sunrise diatas saya gak bakal nyerah 😝


Hasil ngos-ngosan. Pas lihat ini langsung adem, lega, capeknya hilang.






Lampung 2016

Hmm dua tahun lalu saya ke Lampung bertujuan untuk datang ke acara pernikahan saudara sepupu. Datang ke acara nikahan yang berujung keesokannya iseng melosok ke pantai-pantai terdekat dengan om dan sepupu-sepupu saya hehehe. Jujur saya nggak banyak berekspektasi dengan alam di Lampung, tapi siapa sangka ternyata pemandangannya oke juga!

Pertama kami ke Pantai Mutun. Dari Hotel Horison Lampung ke Pantai Mutun itu butuh waktu sekitar 2 jam kalau nggak salah. Yang jelas agak lama karena saya pun sampe ketiduran di mobil. Kedua, kami mampir ke Marines Eco Park, sebuah tempat wisata marinir.

Along The Way to Pantai Mutun




Marines Eco Park
Marines Eco Park (2)
Yak to be honest aslinya kalo lihat pake mata langsung malah lebih bagus daripada di foto. Tadinya kami sempat berniat mau ke Pulau Pahawang sekalian. Tapi apa daya, kami nggak prepare untuk jalan-jalan (karena balik lagi tujuan awal kami sebenarnya untuk ke acara nikahan) 😂, jadi dari segi waktu dan bawaan kami pun sepertinya kurang memadai. Jadi kami putuskan untuk pulang hiks.. Yasudah gapapa lah ya lumayan mampir dikit ke pantai walau sebentar.

Karimunjawa 2015

Bersama om dan saudara sepupu juga, saya pergi ke Karimunjawa di akhir tahun 2015. Sepertinya orang sudah banyak yang tau kalau mau nyebrang ke Karimunjawa bisa ada dua cara, yaitu lewat Semarang dan Jepara. Saya dan saudara-saudara saya naik bus dari Jakarta ke Jepara. Dari Jepara kami nyebrang pakai kapal Feri. Waktu untuk menyebrang dengan kapal Feri saja butuh waktu 4 jam. Itu aja ada yang mabok kapal 😌

Yah walaupun capek di kapal (untung saya nggak mabok) plus capek sebelumnya di bus, sampai sana kami disambut oleh tour guide-nya untuk ke tempat penginapan, makan, dan istirahat sebentar. Setelah itu kami langsung dibawa untuk island hopping. Nah, di hari pertama ini ada satu pulau yang jadi favorit saya banget, namanya Pantai Ujung Gelam, plus sunset-an disana tuh pemandangannya indaaah banget!








Karimunjawa juga bisa jadi salah satu tempat yang oke buat snorkeling atau diving. Pemandangan terumbu karang dan ikan-ikannya itu lhoo ampun deh kece banget bikin gakmau cepet-cepet balik naik ke kapal! Salah dua tempat snorkeling yang bagus itu di Pulau Kecil dan Pulau Gosong.




Masih ada lagi tentang Karimunjawa..

Pemandangan di pagi hari. Saya yang biasanya agak susah bangun pagi, kali ini semangat bangun pagi demi liat pemandangan subuh-subuh yang jarang ada kayak begini 😂

Penduduk lokal menamai tempat ini Bukit Love. Agak geli ya dengernya? Mungkin dinamai begitu karena rata-rata orang yang ke bukit ini langsung jatuh cinta sama pemandangannya.
*Gakmau nebak karena setelah dari sini langsung dapet jodoh, soalnya walaupun habis naik kesana saya tetep gak langsung dapet jodoh*

Karimunjawa itu memang cukup ramai sama pengunjung, tapi tempat ini belum ada sentuhan modern-modernnya sama sekali kayak Bali/Lombok. Listrik hanya menyala di malam hari (18:00 - 6:00). Jadi malam hari itu harus digunakan sebaik mungkin untuk charge HP, Camera, dan Powerbank supaya nggak kesusahan pas pagi sampai sore waktu lagi di jalan-jalan. Internet susah itu sudah pasti. Tapi itu justru yang bikin perjalanan ke Karimunjawa jadi menyenangkan! Benar-benar bisa nikmatin banget alamnya tanpa diganggu notifikasi dari chat atau social media apapun! Hotel pun hanya satu disana dan saya tetap memilih tinggal di rumah warga. Suasana pedesaannya itu sih yang bikin beda. Jadi walaupun lagi jalan-jalan, tapi bener-bener ngerasa kayak penduduk lokal hehehe. Kalau ada kesempatan untuk balik lagi ke Karimunjawa, saya sih mauuuu banget!

Sekilas di Bali

Setelah dari Karimunjawa, saya langsung ke Bali. Perjalanan waktu itu baru bisa dibilang from island to island atau from pantai to pantai hahahaha. Mungkin kelihatannya eneg ya tapi saya sih nggak pernah eneg sama pantai, walaupun saat di Bali saya nggak begitu main di pantai. Tujuan ke Bali juga sebenarnya untuk ketemu keluarga jauh.

Di Bali saya ngapain aja ya? Seingat saya cuma belanja, jalan-jalan di Seminyak sama sepupu-sepupu malam-malam, lalu nyari makan, nyobain fish therapy juga yang sangat sangat bikin kaki geli.

Tapi kalau saya boleh komentar sedikit, Bali waktu itu lebih sepi dibanding sebelumnya waktu saya kesana. Mungkin jaman dulu tempat bagus di Indonesia yang ada di pikiran orang (terutama untuk tahun baru) cuma Bali kali ya, tapi sekarang orang sudah banyak yang mulai explore ke tempat-tempat di Indonesia yang lain. Bahkan supir taksi saya waktu saya mau ke airport untuk pulang bilang "Tahun baru kali nggak kayak biasanya Mbak. Biasanya tourist dan pengunjungnya rame. Ini sekarang lagi sepi dan menurun". Hmm kan bener... Tapi tetep aja budaya di Bali menurut saya masih kental dan itu akan selamanya  jadi daya tarik Bali 😊

Cukup yaaa cerita singkat yang seseingatnya dan seadanya ini muehehe. Semoga saya bisa cepat kembali menulis dan bercerita tentang perjalanan saya ya!

xx,
Yunita

Tuesday, February 06, 2018

A Year Later

Reading my previous blog makes me want to slap myself because I promised myself and everyone to write a special post talking about my university life. The fact is that I didn't get so much time to do that, but of course I do miss writing! Looking back in the past, I still remember when I had graduated from uni and I was strictly ambitious to find a job. Lol! I started working in February 2017 (and I cannot believe that it has been one year I work!). The past one year has been tough to me. It's tough being a freshman, being new, being junior. Yet, aside from it, I'm pleased that I got to know new friends from work (while I could keep maintaining my relationship with my old friends) who have different backgrounds that I could get so many new perspectives! :)

If I have to sum everything I got through in the past one year, I would say 2017 was a new 'thing' for me. It's a moment when I realized that  I was only a 22-year-old kid who just started to know how the world works and fell down for several times at the early age of 23. The good news is that I didn't fall with emptiness. I fell and got up again with lessons that shaped me much better as a person.

Y&R Indonesia Team

I hope 2018 will be much greater for new exciting events, business, lessons, and relationships. Futhermore, I hope I can share more with others and do something more for Indonesia's education and environment (because these two are the issues that I give my concern the most outside my daily office works!).
I also hope I can travel more this year since I have lacked of traveling haha! Oh, and I surely will post about my uni life ;)

Sunday, January 15, 2017

University Life is Over

Wednesday, November 09 2016: the last time I wrote on this blog, not knowing that I was reaching my bachelor's degree exactly in 20 days. Ah, and this reminds me of back when I wrote this post. I wrote a sentence "I don't know why but I optimistically will be graduating as a Bachelor of Communications in just under 5 months". Sorry if it sounds overconfident haha but I did that just to calm myself. There's something magical about that sentence: I graduated 4 months later after I wrote that! I wrote it in July. Then I graduated on November 29th. It's under 5 months! I don't know if it's a coincidence or  meant to be my fate. My sister only told me that it's called "law of attraction". No no. Google it yourself. I'm not discussing it any further :p

I've been very excited about my graduation. Since my college is located in Jatinangor, so I don't need to go back and forth Jakarta-Jatinangor anymore *yeay*. I'm also excited for having done with my dissertation. It was a long, tiring, and emotional journey. Lucky me I could get through it with so much helps from the people around me.

Despite my excitement, I know and I can't be denial that I'm gonna miss all the moments I had during my 4-year university life.
"I've learned one thing, and that's to quit worrying about stupid things. You have four years to be irresponsible here, relax. Work is for people with jobs. You'll never remember class time, but you'll remember the time you wasted hanging out with your friends. So stay out late. Go out with your friends on a Tuesday when you have a paper due on Wednesday. Spend money you don't have. Drink 'til sunrise. The work never ends, but college does..." - Tom Petty
 Again, my sister ever reminded me to enjoy my uni life and not to be too serious. Being a student is great. We can do whatever we like. Whenever we make a mistake, we'll be tolerated just because we are students. It is true and I really enjoyed those days. College life is the last chance for us to be able to play around without having to feel penalized. I met some cool people who are now friends with me, thus I don't regret my college life!

I'm in the time when everyone around me says "Congratulations for finally getting your bachelor's degree!" or "Welcome to the jungle!". (Well, thank this everybody's favorite rock band called Guns N' Roses. If they had not written this song, this phrase would not exist).

Yesss it's true that I am now searching for my own path to get out of this jungle. I've been lost here since I graduated. Yeah, everybody experiences this stage of life though. This could be the reason why we should have enjoyed our college life. It's okay. Getting lost will teach us something in the end. But when we're already at the top, we should never forget and keep reminiscing our college life no matter how good or bad it was :) Yeup, I will always reminisce them. In order not to forget before I'm getting old, I'm going to write some posts about my college gang and also the small town but full of stories called Jatinangor.

Dear friends, let's explore the jungle!

Love,
Yunita Werdiningrum, S.I.Kom